Author name: admin

Infrastruktur PDAM

Infrastruktur PDAM dengan Investasi Tinggi

Infrastruktur yang digunakan untuk mengolah air dari air baku menjadi air minum atau air bersih serta menyalurkannya kepada pelanggan merupakan komponen biaya yang tinggi, sehingga banyak PDAM tidak dapat membangunnya sendiri dengan mengandalkan keuangan sendiri, karena memang keuangan PDAM secara umum hanya cukup untuk operasional saja, sementara untuk investasi masih banyak PDAM yang kesulitan, akhirnya mengandalkan bantuan Pemerintah Pusat atau penyertaan modal dari pemerintah daerah.

Langkah lain untuk dapat berinvestasi, mau tidak mau PDAM haru menyesuaikan tarifnya agar dapat menutupi biaya operasional dan pemeliharaan serta dapat berinvestasi kembali untuk infrastruktur yang sudah usang dan rusak.

 

Berikut infrastruktur PDAM yang berbiaya tinggi, antara lain :

  1. Intake Atau Pengambilan Air Baku: fasilitas ini berfungsi untuk mengambil air dari sumber air baku seperti sungai, danau, atau waduk. Di intake pengambilan air baku, beberapa peralatan yang harus disiapkan antara lain:
  2. Grate bar atau grid: digunakan untuk menyaring benda-benda yang tidak diinginkan seperti daun, ranting, sampah, atau batu-batu kecil agar tidak masuk ke dalam pompa atau instalasi pengolahan air.
  3. Screen atau ayakan: digunakan untuk menyaring benda-benda kecil seperti pasir, kerikil, atau material lainnya yang terbawa oleh aliran air.
  4. Pompa: digunakan untuk memindahkan air dari sumber ke instalasi pengolahan air.
  5. Katup atau valve: digunakan untuk mengatur dan mengontrol aliran air.
  6. Pipa atau saluran air: digunakan untuk menghubungkan antara intake pengambilan air baku dengan instalasi pengolahan air.
  7. Tangki atau kolam penampung: digunakan untuk menampung air baku yang diambil dari sumber air sehingga dapat diolah dan didistribusikan ke konsumen.
  8. Alat ukur atau sensor: digunakan untuk mengukur kualitas dan kuantitas air baku, seperti pH meter, turbidimeter, dan flow meter.
  9. Sistem penggerak: digunakan untuk menggerakkan pompa, seperti motor listrik atau mesin diesel.

Air baku PDAM bisa didapat dari air pemukaan seperti sungai, danau dan air laut, bisa juga dari mata air dan juga air tanah dalam.  Di beberapa PDAM hanya mempunyai sumber air dari air permukaan saja, seperti di PDAM Bandarmasih, namun ada juga yang sumber airnya lengkap seperti di PDAM Kota Bandung. https://perumdatirtawening.co.id/cindex/layanan/AIR-MINUM

 

  1. Instalasi Pengolahan Air: instalasi pengolahan air bersih berguna untuk memurnikan air baku dari zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia seperti bakteri, virus, atau bahan kimia. Instalasi pengolahan air minum memerlukan investasi yang tinggi karena proses pengolahan air minum melibatkan banyak teknologi dan peralatan khusus yang membutuhkan biaya tinggi. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi biaya investasi instalasi pengolahan air minum, antara lain:
  2. Bahan Baku: Bahan baku air bersih yang digunakan dalam proses pengolahan air minum harus memenuhi standar tertentu dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya atau zat lain yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen. Oleh karena itu, biaya untuk memperoleh bahan baku air yang aman dan bersih dapat meningkatkan biaya investasi instalasi pengolahan air minum.
  3. Teknologi: Instalasi pengolahan air minum memerlukan teknologi yang canggih dan peralatan khusus untuk memastikan kualitas air minum yang dihasilkan memenuhi standar yang ditetapkan oleh badan kesehatan dan lingkungan. Teknologi ini dapat meliputi pemrosesan kimia, pemrosesan fisik, filtrasi, dan banyak lagi. Biaya untuk membeli, memasang, dan memelihara teknologi ini juga dapat mempengaruhi biaya investasi.
  4. Tenaga Kerja: Pengoperasian dan pemeliharaan instalasi pengolahan air minum memerlukan tenaga kerja yang terlatih dan terampil. Biaya untuk merekrut, melatih, dan mempekerjakan staf yang berkualitas dapat menjadi faktor yang signifikan dalam biaya investasi.
  5. Pengelolaan Limbah: Proses pengolahan air minum menghasilkan limbah yang harus dikelola dengan baik agar tidak membahayakan lingkungan. Biaya untuk memproses dan membuang limbah ini juga dapat meningkatkan biaya investasi.
  6. Sertifikasi dan Perizinan: Instalasi pengolahan air minum harus mematuhi standar dan persyaratan yang ditetapkan oleh badan kesehatan dan lingkungan
  7. Sistem Perpipaan: perpipaan adalah infrastruktur yang penting dalam mendistribusikan air bersih dari instalasi pengolahan ke rumah-rumah atau gedung-gedung. Pipa-pipa ini terdiri dari berbagai ukuran dan jenis tergantung pada jarak dan kebutuhan pasokan air. Perpipaan merupakan salah satu infrastruktur penting dalam sistem distribusi air bersih dari PDAM ke pelanggan. Biaya pembangunan dan pemeliharaan jaringan perpipaan juga dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan tarif PDAM.Biaya pembangunan jaringan perpipaan dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor seperti lokasi, jarak, jenis dan diameter pipa yang digunakan, serta teknologi dan material yang dipakai. Biaya tersebut mencakup biaya pembelian pipa dan aksesorisnya, biaya tenaga kerja, biaya bahan bakar dan biaya administrasi. Sementara itu, biaya pemeliharaan jaringan perpipaan meliputi biaya perawatan dan reparasi jaringan pipa yang rusak, serta biaya penggantian pipa yang sudah tidak layak pakai. Biaya pemeliharaan jaringan perpipaan dapat bervariasi tergantung pada ukuran jaringan perpipaan, jenis material pipa, serta usia dan kondisi pipa. Oleh karena itu, perpipaan yang baik dan efisien dapat membantu menurunkan biaya operasional dan pemeliharaan jaringan perpipaan, sehingga dapat membantu menekan kenaikan tarif PDAM. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan material pipa yang berkualitas tinggi, merencanakan jaringan pipa yang efisien, dan melakukan pemeliharaan secara rutin untuk menghindari kerusakan dan kebocoran yang dapat menyebabkan pemborosan air dan biaya yang tidak perlu.
  8. Storage Atau Tangki Penampung: tangki penampung merupakan infrastruktur yang berfungsi untuk menyimpan air bersih, sehingga ketersediaan air dapat diatur secara lebih efisien dan untuk memastikan pasokan air yang terus-menerus pada saat terjadi masalah pada instalasi lainnya.
  9. Pompa-pompa: pompa-pompa berfungsi untuk mengalirkan air dari instalasi pengolahan ke dalam jaringan perpipaan, dan juga mengatur tekanan air agar pasokan air tetap stabil. enis pompa yang biasa digunakan di PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan memiliki biaya yang tinggi adalah pompa sentrifugal multistage. Pompa sentrifugal multistage merupakan jenis pompa sentrifugal yang memiliki beberapa tahap impeller (roda) yang terhubung secara seri, sehingga mampu memberikan tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pompa sentrifugal biasa. Pompa ini biasanya digunakan untuk memompa air dari sumber air bawah tanah atau sungai yang memiliki kedalaman dan jarak yang cukup jauh dari tempat distribusi air.Karena kemampuannya yang tinggi dalam memompa air dengan tekanan yang besar, maka pompa sentrifugal multistage sering digunakan di PDAM untuk memompa air dari sumber air ke tempat-tempat penampungan dan distribusi air yang jauh. Namun, pompa jenis ini memiliki biaya yang cukup tinggi, baik dari segi pembelian maupun biaya operasionalnya.

Selain pompa sentrifugal multistage, ada beberapa jenis pompa yang biasanya digunakan di PDAM, antara lain:

  1. Pompa submersible: Pompa submersible digunakan untuk memompa air dari sumber air bawah tanah atau sumur dalam. Pompa ini ditempatkan di dalam air sehingga dapat menghemat ruang dan tidak memerlukan pengisian air manual seperti halnya pada pompa permukaan. Pompa submersible biasanya memiliki daya dan kapasitas yang beragam dan dapat digunakan untuk keperluan domestik maupun industri.
  2. Pompa jet: Pompa jet atau jet pump digunakan untuk memompa air dari sumber air dangkal seperti sumur dangkal atau sumur gali. Pompa ini dapat menghasilkan tekanan yang cukup tinggi dan dapat menghisap air dari kedalaman yang terbatas.
  3. Pompa booster: Pompa booster digunakan untuk meningkatkan tekanan air pada jaringan distribusi air yang sudah ada. Pompa ini biasanya ditempatkan pada titik-titik tertentu pada jaringan distribusi air yang membutuhkan peningkatan tekanan.
  4. Pompa dosis: Pompa dosis atau dosing pump digunakan untuk memasukkan bahan kimia ke dalam air yang akan didistribusikan, seperti chlorine atau fluoride. Pompa dosis memungkinkan penggunaan bahan kimia secara akurat dan terkontrol.
  5. Sistem Pengukuran: infrastruktur ini digunakan untuk mengukur penggunaan air oleh konsumen, sehingga PDAM dapat menghasilkan tagihan yang akurat dan memungkinkan pelanggan untuk mengelola penggunaan air mereka.
  6. Sistem Manajemen Informasi: sistem ini digunakan untuk mengelola data pelanggan dan menghasilkan tagihan, dan untuk memantau kinerja sistem PDAM.

Manfaat dan Faktor Kenaikan Tarif PDAM

Kenaikan tarif tidak selalu berdampak negatif bagi masyarakat, bahkan sebaliknya, karena jika PDAM tidak menaikan tarif, maka PDAM tidak dapat melangsungkan kegiatan operasionalnya, sehingga akan berdampak ke masyarakat tidak mendapatkan aliran air.

Berikut manfaat kenaikan Tarif PDAM untuk pelanggan/masyarakat :

  1. Peningkatan kualitas layanan: Dengan adanya kenaikan tarif, PDAM dapat memperbaiki dan meningkatkan infrastruktur dan fasilitas penyediaan air bersih, termasuk jaringan pipa, instalasi pompa, dan instalasi pengolahan air. Hal ini dapat meningkatkan kualitas dan keandalan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
  2. Peningkatan ketersediaan air bersih: Dengan adanya kenaikan tarif, PDAM dapat meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi air bersih, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih dan mengurangi masalah krisis air.
  3. Peningkatan kesehatan masyarakat: Dengan adanya kenaikan tarif, PDAM dapat meningkatkan kualitas air bersih dan memastikan bahwa air yang dihasilkan aman untuk digunakan dan memenuhi standar kesehatan. Hal ini dapat membantu mencegah penyakit yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi.
  4. Peningkatan ekonomi masyarakat: Dengan adanya kenaikan tarif, PDAM dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan air bersih dan mengurangi kerugian dalam proses produksi dan distribusi. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya produksi dan meningkatkan daya saing industri dan bisnis di daerah tersebut.
  5. Peningkatan investasi dan pengembangan: Dengan adanya kenaikan tarif, PDAM dapat meningkatkan pendapatan yang diperoleh dari pelayanan air bersih dan memungkinkan untuk melakukan investasi dan pengembangan dalam jangka panjang. Hal ini dapat membantu meningkatkan infrastruktur dan layanan air bersih di masa depan dan memastikan keberlanjutan layanan tersebut.

Dalam jangka panjang, kenaikan tarif PDAM yang rasional dan transparan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, termasuk peningkatan kualitas hidup, kesehatan, dan perekonomian.

 

Faktor Penyebab  Kenaikan Tarif  PDAM

Beberapa faktor yang menyebabkan adanya kenaikan tarif PDAM antara lain:

Kenaikan biaya produksi: Biaya produksi air bersih dapat meningkat karena naiknya biaya bahan baku seperti bahan kimia, energi listrik, serta biaya operasional seperti biaya perawatan dan pemeliharaan infrastruktur. Jika biaya produksi meningkat, maka PDAM perlu menaikkan tarif air bersih agar masih bisa mencapai Break Even Point (titik impas) atau Full Cost Recovery.

  1. Inflasi: Inflasi merupakan kenaikan harga secara umum di ekonomi dan dapat mempengaruhi biaya produksi dan operasional PDAM, termasuk biaya bahan baku, energi, biaya perawatan dan pemeliharaan, dan biaya penggantian infrastruktur yang sudah tua. Jika inflasi terjadi, maka biaya produksi dan operasional PDAM cenderung meningkat, sementara pendapatan PDAM yang berasal dari penjualan air bersih tetap atau bahkan turun. Dalam situasi seperti ini, PDAM perlu menaikkan tarif agar dapat memperoleh pendapatan yang cukup untuk menutupi biaya produksi dan operasional, sehingga masih dapat mencapai Full Cost Recovery. Namun, kenaikan tarif PDAM karena faktor inflasi harus dilakukan secara hati-hati dan transparan, sehingga tidak memberikan beban yang berlebihan bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Oleh karena itu, pemerintah dan PDAM perlu memperhatikan dampak sosial dan ekonomi kenaikan tarif, serta mempertimbangkan berbagai opsi alternatif untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul bagi masyarakat.
  2. Peningkatan kebutuhan masyarakat: Peningkatan kebutuhan masyarakat akan air bersih dapat menyebabkan PDAM harus menambah kapasitas produksi, distribusi, dan infrastruktur penyediaan air bersih. Kenaikan biaya produksi untuk meningkatkan kapasitas tersebut dapat menyebabkan PDAM harus menaikkan tarif.
  3. Perubahan iklim: Perubahan iklim dapat mempengaruhi ketersediaan dan kualitas air bersih, sehingga memerlukan investasi dalam teknologi dan infrastruktur untuk memproduksi air bersih yang lebih aman dan efisien. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi dan menaikkan tarif air bersih.
  4. Kebutuhan pembiayaan investasi: PDAM memerlukan pembiayaan untuk melakukan investasi dalam infrastruktur dan teknologi yang lebih modern dan efisien, yang dapat meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Pembiayaan tersebut dapat berasal dari kenaikan tarif air bersih.
  5. Regulasi dan kebijakan pemerintah: Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan kenaikan tarif air bersih sebagai bagian dari kebijakan peningkatan kualitas pelayanan air bersih dan meningkatkan efisiensi PDAM.
  6. Perubahan Penggunaan Ruang dan Lahan : Terutama di area sumber air dapat mempengaruhi kenaikan tarif PDAM. Kondisi lingkungan yang buruk seperti deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan kerusakan lingkungan lainnya dapat mempengaruhi ketersediaan dan kualitas air bersih. Penurunan kualitas air bersih dapat memerlukan investasi dalam teknologi dan infrastruktur untuk memproduksi air bersih yang lebih aman dan efisien, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan operasional PDAM. Di sisi lain, kebijakan perubahan penggunaan lahan seperti pengembangan kawasan permukiman atau industri juga dapat meningkatkan kebutuhan air bersih, sehingga PDAM harus menambah kapasitas produksi, distribusi, dan infrastruktur penyediaan air bersih. Kenaikan biaya produksi untuk meningkatkan kapasitas tersebut dapat menyebabkan PDAM harus menaikkan tarif. Oleh karena itu, perubahan penggunaan ruang dan lahan dapat berdampak pada kenaikan tarif PDAM, terutama jika mengakibatkan peningkatan biaya produksi atau operasional PDAM. Namun, perlu dicatat bahwa kenaikan tarif PDAM harus dilakukan dengan hati-hati dan transparan, dengan mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu. Selain itu, perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian penggunaan lahan yang tepat agar lingkungan dan sumber air tetap terjaga dan terjaga keberlanjutannya.

Jadi dapat disimpulkan dengan adanya faktor-faktor tersebut, tarif yang berlaku di masyarakat mau tidak mau harus melakukan penyesuaian, supaya layanan distribusi air minum bisa terus mengalir dan diperbaiki layanannya.  Penjelasan mengenai faktor penyebab kenaikan tarif disampaikan oleh salah satu direktur PDAM yang ada di Indonesia dan dapat disimak di video berikut ini : https://www.youtube.com/watch?v=zZ068ALX5Zg

Pelanggan PDAM Wajib Tahu : Apa Itu FCR dan Dampaknya Bagi Pelanggan

Apa Itu FCR??

Full Cost Recovery (FCR) adalah suatu konsep dalam akuntansi dan manajemen keuangan yang menunjkkan bahwa sebuah perusahaan atau organisasi harus mencari pendapatan yang cukup untuk menutupi semua biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usahanya. Dalam konteks perusahaan daerah air minum, FCR berarti bahwa perusahaan tersebut harus menetapkan tarif air yang cukup untuk menutupi seluruh biaya produksi, distribusi, operasional, dan pemeliharaan sistem pengairan yang dimilikinya.

 

Komponen-komponen yang menentukan FCR di perusahaan daerah air minum antara lain:

  1. Biaya investasi: Biaya investasi meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk membangun atau memperbaiki infrastruktur pengairan, seperti pompa, pipa, dan reservoir. Biaya ini juga meliputi biaya bunga dan amortisasi atas pinjaman yang diambil perusahaan untuk membiayai investasi tersebut.
  2. Biaya operasional: Biaya operasional meliputi biaya untuk menjalankan sistem pengairan, termasuk biaya listrik, bahan kimia, dan gaji pegawai yang terlibat dalam operasional perusahaan.
  3. Biaya pemeliharaan: Biaya pemeliharaan meliputi biaya untuk memelihara infrastruktur pengairan, termasuk biaya perawatan, perbaikan, dan penggantian pipa, pompa, dan reservoir yang rusak atau usang.
  4. Biaya overhead: Biaya overhead meliputi biaya-biaya yang tidak terkait langsung dengan produksi atau distribusi air, seperti biaya administrasi, biaya pemasaran, dan biaya keamanan.
  5. Pendapatan: Pendapatan dihasilkan dari penjualan air kepada pelanggan. Pendapatan ini harus mencukupi untuk menutupi semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dan memberikan keuntungan yang wajar bagi perusahaan.

Dalam prakteknya, untuk mencapai FCR, perusahaan daerah air minum harus menetapkan tarif air yang mencakup semua biaya yang telah disebutkan di atas, termasuk keuntungan yang wajar bagi perusahaan. Tarif air ini harus dapat dijustifikasi dan disetujui oleh regulator (dalam hal ini pemerintah daerah) dan pelanggan untuk memastikan keberlanjutan operasional perusahaan dan ketersediaan air yang memadai bagi masyarakat. Contoh penetapan tarif yang dilakukan oleh Perumda Tirtawening Kota Bandung dapat dilihat di link berikut ini

https://perumdatirtawening.co.id/cposting/posting/Penyesuaian-Tarif-Baru

 

Apa Yang Terjadi Jika PDAM Tidak FCR?

Jika PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) tidak mencapai Full Cost Recovery (FCR), artinya PDAM tidak berhasil menetapkan tarif air yang cukup untuk menutupi seluruh biaya produksi, distribusi, operasional, dan pemeliharaan sistem pengairan yang dimilikinya. Konsekuensi dari tidak mencapai FCR bisa sangat serius dan berdampak buruk pada kelangsungan operasional perusahaan, lingkungan, dan masyarakat di wilayah yang dilayani oleh PDAM tersebut.

Berikut beberapa dampak buruk jika PDAM tidak mencapai FCR:

  1. Terbatasnya ketersediaan air: Jika PDAM tidak mencapai FCR, perusahaan mungkin tidak memiliki cukup dana untuk memperbaiki atau membangun infrastruktur air yang diperlukan, seperti pipa, pompa, dan reservoir. Hal ini dapat menyebabkan terbatasnya ketersediaan air bagi masyarakat, terutama di daerah yang kurang terlayani atau terpencil.
  2. Penurunan kualitas air: Jika PDAM tidak mencapai FCR, perusahaan mungkin tidak memiliki cukup dana untuk memperbaiki atau membangun infrastruktur air yang diperlukan. Hal ini dapat menyebabkan kualitas air menurun, terutama jika pipa dan infrastruktur lainnya tidak dipelihara dengan baik.
  3. Kondisi infrastruktur yang buruk: Jika PDAM tidak mencapai FCR, perusahaan mungkin tidak memiliki cukup dana untuk memperbaiki atau membangun infrastruktur air yang diperlukan. Hal ini dapat menyebabkan kondisi infrastruktur air menjadi buruk dan usang, yang dapat meningkatkan risiko kerusakan dan kebocoran pipa.
  4. Tidak berkelanjutan secara finansial: Jika PDAM tidak mencapai FCR, perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan keuangannya untuk memperbaiki, membangun, dan memelihara infrastruktur air. Hal ini dapat menyebabkan PDAM mengalami kerugian finansial, yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan operasional perusahaan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi PDAM untuk mencapai FCR dan menetapkan tarif air yang cukup untuk menutupi seluruh biaya produksi, distribusi, operasional, dan pemeliharaan sistem pengairan yang dimilikinya. Ini akan membantu memastikan ketersediaan air yang memadai bagi masyarakat dan kelangsungan operasional perusahaan dalam jangka panjang.

 

Adakah Hubungan Antara FCR Dan NRW (Non Revenue Water) di PDAM?

Ada hubungan yang erat antara FCR (Full Cost Recovery) dan NRW (Non Revenue Water) di PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). NRW merujuk pada kehilangan air yang terjadi selama proses produksi, distribusi, dan konsumsi air, yang dapat disebabkan oleh kebocoran, pencurian, penggunaan yang tidak efisien, atau masalah teknis lainnya.

Ketika PDAM tidak mencapai FCR, mereka mungkin tidak memiliki cukup dana untuk memperbaiki atau memelihara sistem distribusi air yang efisien. Ini dapat menyebabkan meningkatnya kehilangan air yang disebabkan oleh kebocoran, yang pada akhirnya akan menyebabkan NRW yang lebih tinggi. Kondisi infrastruktur yang buruk dan tidak diperbaiki dengan baik dapat menyebabkan terjadinya kebocoran dan kerugian air yang lebih banyak, dan pada akhirnya dapat meningkatkan NRW.

Dalam hal ini, mencapai FCR dapat membantu PDAM untuk memperbaiki atau memelihara sistem distribusi air yang efisien, sehingga dapat mengurangi kehilangan air dan NRW. FCR juga dapat membantu PDAM untuk memiliki lebih banyak dana untuk melakukan investasi yang diperlukan untuk mengurangi NRW, seperti memasang alat ukur dan kontrol, memperbaiki atau mengganti pipa yang rusak, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air.

Dengan demikian, mencapai FCR dan mengurangi NRW adalah kunci untuk menjaga kelangsungan operasional dan ketersediaan air yang memadai bagi masyarakat.

 

Penyesuaian Tarif dulu atau Menurunakan Kehilangan Air dulu?

Penyesuaian tarif dan pengurangan kehilangan air (NRW) adalah dua hal yang saling terkait dalam mencapai tujuan full cost recovery (FCR) di PDAM. Kedua hal tersebut harus dilakukan secara bersamaan dan seimbang.

Pada umumnya, pengurangan kehilangan air (NRW) dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyesuaian tarif. Hal ini dikarenakan kehilangan air yang tinggi akan menyebabkan penghasilan PDAM menjadi tidak maksimal sehingga membuat PDAM sulit mencapai FCR. Selain itu, penurunan kehilangan air juga dapat membantu mengurangi biaya operasional PDAM dan meningkatkan efisiensi dalam penyediaan layanan air bersih.

Namun, jika kehilangan air telah diupayakan dan diperbaiki secara maksimal namun masih belum memungkinkan untuk mencapai FCR, maka penyesuaian tarif harus dilakukan. Hal ini karena penyesuaian tarif merupakan sumber pendapatan yang penting bagi PDAM untuk membiayai kegiatan operasional dan investasi guna meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan air bersih.

Dalam menjalankan kebijakan penyesuaian tarif dan pengurangan kehilangan air, PDAM harus mengedepankan transparansi dan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. PDAM harus menjelaskan dengan jelas dan transparan tentang kebijakan yang diambil dan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya FCR untuk menjaga kelangsungan operasional PDAM serta memberikan layanan air yang berkualitas bagi masyarakat.

Tarif PDAM Disetujui dan disyahkan Oleh Walikota Atau Bupati, Jika Saja Walikota Atau Bupati Tidak Menyetujui Penyesuain Tarif, Langkah Apa Yang Harus Dilakukan Oleh PDAM Agar FCR ?

Penetapan tarif PDAM biasanya diatur oleh pemerintah daerah setempat, yaitu Walikota atau Bupati, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, jika Walikota atau Bupati tidak menyetujui penyesuaian tarif yang diajukan oleh PDAM, langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh PDAM untuk mencapai FCR adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan analisis biaya: PDAM harus melakukan analisis biaya yang cermat dan menyeluruh untuk menentukan tarif yang diperlukan untuk mencapai FCR. Analisis biaya ini harus mencakup biaya produksi, distribusi, operasional, pemeliharaan, serta investasi dan perbaikan infrastruktur.
  2. Melakukan konsultasi: PDAM dapat melakukan konsultasi dengan pemerintah daerah, lembaga pengawas, atau organisasi yang terkait untuk membahas penyesuaian tarif dan menjelaskan kebutuhan untuk mencapai FCR. Dalam hal ini, PDAM harus memastikan bahwa argumentasi mereka didasarkan pada data yang valid dan relevan.
  3. Melakukan sosialisasi: PDAM dapat melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pelanggan mengenai kebutuhan untuk mencapai FCR dan dampak buruk jika PDAM tidak mencapai FCR. Dalam hal ini, PDAM dapat menjelaskan bahwa penyesuaian tarif yang diusulkan akan membantu meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bagi masyarakat.

Namun, sebaiknya PDAM tetap menjalankan kewajibannya untuk memberikan pelayanan air bersih dan layak kepada masyarakat, meskipun tarif belum mencapai FCR. PDAM juga dapat mencari sumber pendanaan alternatif, seperti bantuan dari pemerintah, pinjaman dari bank, atau kerja sama dengan pihak swasta, untuk memperbaiki atau memperbarui infrastruktur air dan meningkatkan efisiensi operasional.

Bagaimana Bentuk Sosialisasi Penyesuaian Tarif Kepada Masyarakat Pelanggan Agar Mereka Dapat Memahami Kesulitan PDAM Jika Tidak Melakukan Penyesuaian Tarif

Sosialisasi penyesuaian tarif kepada masyarakat pelanggan sangat penting dilakukan oleh PDAM untuk memperoleh dukungan dan pemahaman dari masyarakat tentang kebutuhan penyesuaian tarif untuk mencapai FCR. Berikut adalah beberapa bentuk sosialisasi yang dapat dilakukan oleh PDAM:

  1. Sosialisasi melalui media massa: PDAM dapat mengadakan konferensi pers atau memasang iklan di media massa seperti surat kabar, televisi, radio, atau media sosial untuk menjelaskan tentang penyesuaian tarif dan kebutuhan untuk mencapai FCR.
  2. Sosialisasi melalui brosur dan leaflet: PDAM dapat membuat brosur atau leaflet yang berisi informasi tentang penyesuaian tarif, dampak buruk jika PDAM tidak mencapai FCR, dan manfaat yang akan diperoleh oleh masyarakat jika tarif dinaikkan. Brosur dan leaflet ini dapat didistribusikan ke rumah-rumah atau kantor-kantor masyarakat.
  3. Sosialisasi melalui rapat desa/kelurahan: PDAM dapat mengadakan rapat desa/kelurahan yang dihadiri oleh warga masyarakat dan menjelaskan kebutuhan untuk penyesuaian tarif dan manfaatnya bagi masyarakat.
  4. Sosialisasi melalui papan pengumuman: PDAM dapat memasang papan pengumuman di kantor PDAM atau di tempat-tempat strategis lainnya, seperti pasar atau terminal, yang berisi informasi tentang penyesuaian tarif dan manfaatnya bagi masyarakat.
  5. Sosialisasi melalui dialog interaktif: PDAM dapat mengadakan dialog interaktif dengan masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu, seperti pengusaha atau tokoh masyarakat, untuk mendiskusikan penyesuaian tarif dan memperoleh masukan dan saran dari masyarakat.

Dalam melakukan sosialisasi, PDAM harus menjelaskan dengan jelas dan transparan tentang kebutuhan untuk penyesuaian tarif dan manfaatnya bagi masyarakat, serta memastikan bahwa informasi yang disampaikan didukung oleh data dan fakta yang valid. PDAM juga harus memastikan bahwa masyarakat memahami bahwa penyesuaian tarif diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan air, dan bahwa PDAM akan memastikan agar tarif yang dinaikkan tetap terjangkau bagi masyarakat kurang mampu.

Anda tinggal di daerah Gedebage Bandung??

Buruan daftarkan diri anda untuk berlangganan air PDAM

Perumda Tirtawening Kota Bandung saat ini sedang memasarkan sambungan baru air minum di daerah Gedebage.  Sistem Penyedian Air Minum Gedebade ini dikenal dengan SPAM Gedebage, mampu melayani 50 ribu pelanggan baru di wilayah Bandung Timur atau sekitar 700 liter per detik yang diproduksi langsung dari Cikalong Pangalengan.

Warga di sejumlah kelurahan Gedebage di antaranya Kelurahan Batununggal, Cijawura, Kujangsari, Sekejati, Margasari, Mekarjaya, Derwati, Cipamokolan, dan Kelurahan Cisaranten Kidul kini dapat menjadi pelanggan PDAM Tirtawening. SPAM Gedebage terbagi menjadi 7 blok Distribusi Meter Area (DMA) yang terdapat di 12 Kelurahan.

Adapun persyaratan mendaftar layanan air PDAM diantaranya menyertakan fotokopi KTP, KK, PBB, sesuai alamat pemasang, membuat surat pernyataan minat berlangganan, dan membayar uang pendaftaran dilanjut membayar tagihan bulanan.

Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirtawening Kota Bandung, Sonny Salimi mengatakan air bersih yang dialirkan untuk pelanggan baru SPAM Gedebage sudah siap minum. “Kami sudah melakukan peningkatan kualitas air yang kami produksi sehingga sesuai dengan standar untuk air siap minum,” ujar Sonny dalam acara sosialisasi bersama warga di Komplek Pesona Ciwastrta Permai, Kelurahan Margasari, Kecamatan Buahbatu, beberapa waktu lalu.

Sonny mengatakan peningkatan kualitas air bersih ini, ditunjang dengan sistem perpipaan baru. Sehingga dijamin air lebih steril dan higienis. “Jadi pelanggan tidak perlu mendidihkan air. Sehingga tentu saja lebih hemat,” jelasnya. Ini salah satu keuntungan bagi warga Blok Gedebage yang memasang sambungan baru. (sumber : https://pasjabar.com/2022/12/20/keuntungan-pelanggan-baru-spam-gedebage-air-bersih-siap-minum/)

Selain itu, Sonny menjelaskan keunggulan lain bagi pelanggan Perumda Tirtawening di Blok Gedebage adalah air yang selalu mengalir 24 jam. “Sumber air kami ini, lokasinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi Blok Gedebage. Jadi debit air yang dialirkan juga tinggi. Sehingga akan mampu memenuhi kebutuhan air di Blok Gedebage, ” paparnya.

Keuntungan Pelanggan Baru SPAM Gedebage

Keuntungan lain adalah pelanggan mendapatkan fasilitas sedot septic tank gratis dengan durasi dua tahun sekali. Pelanggan yang mendaftar sampai akhir tahun ini juga mendapat beberapa keuntungan. “Untuk yang membayar cash, akan mendapat potongan harga Rp500 ribu. Sedangkan untuk yang dicicil akan mendapat potongan Rp250 ribu, ” tambahnya.

Perumda Tirtawening juga menyediakan layanan air minum dalam kemasan yang harganya lebih murah dan kualitas yang sama dengan merk dengan harga yang lebih tinggi. Maka dari itu, dengan segala fasilitas yang diberikan, Sonny berharap warga Blok Gedebage bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk segera mendaftarkan diri. “Semakin banyak warga yang mendaftarkan diri, akan semakin cepat instalasi dipasang kepada pelanggan,” tambahnya. Menurut Sonny, bagi pelanggan di satu wilayah yang sudah mendaftar sebanyak 75 persen, dan sudah membayar minimal uang muka, maka akan segera dipasang. “Kalau peminatnya sedikit, kami agak sulit memasangkan instalasi, karena biaya pemasangan yang tidak murah,” tegasnya.

E-Book Terkait PDAM

Halaman ini berisi kumpulan E-Book yang terkait dengan PDAM, semoga bisa bertumbuh dan dapat dinikmati oleh anda sebagai penambah pengetahuan kePDAMan.

[integrate_google_drive id=”4″]

Peraturan Terkait PDAM

Buat teman-teman SeputarPDAM di Indonesia, kami coba tampilkan daftar peraturan terkait PDAM yang ada di Indonesia.  Kami sengaja kumpulan peraturan yang terserak untuk memudahkan teman-teman mencari peraturan yang terkait PDAM.  Mohon masukan jika ada peraturn yang terlewat atau yang baru namun belum terdaftar di halaman ini. [integrate_google_drive id=”3″]

Membangun Tim RPAM

Dalam modul 1 penyusunan dokumen RPAM adalah menyiapkan Tim terlebih dahulu. Namun tidak hanya tim yang harus disiapkan melainkan kita harus menyiapkan pula komitmen semua fihak termasuk pucuk pimpinan hingga semua personil yang ada di Tim. Selain komitmen juga kita siapkan jadwal kegiatan serta list building dari stakeholder yang terkait.

Berikut susunan yang akan dibahas pada modul 1 ini :

 

Menyiapkan Tim

Dalam menyiapkan tim yang akan bekerja dalam penyusunan dokumen RPAM harus melibatkan berbagai personil yang berpengalaman dalam proses kegiatan sehari hari, yang mengetahui seluk beluk kegiatan yang mereka kerjakan dari a sampai z berikut kendala dan solusi yang terjadi dan mereka lakukan.

Personil yang dilibatkan bisa dari bagian produksi dan air baku yang minimal sudah berkerja di bagian tersebut minimal 3 tahun, begitu juga dengan personil di bagian distribusi yang telah berpengalaman dan mengetahui infrastruktur yang terpasang dari mulai dari JDU hingga jaringan tersier.

Personil dari bagian manalagi yang dapat dilibatkan dalam tim??

  • Bagian pelanggan
  • Bagian Perencanaan
  • Bagian Keuangan
  • Humas
  • Litbang
  • Teknologi Informasi
  • Dan bagian lainnya yang dianggap perlu

Selain itupun ada baiknya ada pakar yang memang ahli dalam hal proses, baik itu proses produksi, distribusi hingga pelayanan, jika di internal PDAM tidak ada bisa menghire dari eksternal, misalnya ahli SPAM yang telah mempunyai sertifikasi keahlian.

Untuk ketua tim sebaiknya personil yang mempunya power besar, misalnya direktur agar dapat menjaga komitmen dan lebih mudah menggerakan tim serta keuangan. Karena tanpa anggaran tim RPAM ini tidak bisa berjalan juga.

Susunan tim RPAM dapat terdiri dari Pengarah misalnya direktur utama, Ketua Tim bisa dijabat oleh Direktur Teknik atau Operasional, atau dapat juga oleh Ketua Litbang atau Bagian Perencanaan.

Level selanjutnya dapat dibagi kelompok bisa berdasarkan modul RPAM ataupun Proses Bisnis PDAM, Misalnya Koodinator I melaksanakan Modul 1 sampai dengan Modul 4, Koordinator II untuk modul 5 sampsi Modul 7 dan sisanya dikoordinir oleh Koordinator III.

Namun pembagian kelompok bisa berdsarkan proses bisnis SPAM, misalnya Group I bertanggung jawab di air baku dan produksi, Group II bertanggung jawab di distribusi sampai pelayanan dan Group III untuk supporting

Tidak ada format yang baku dalam penyusunan Tim ini, seluruhnya diserahkan kepada masing masing PDAM baiknya seperti apa.

Pengukuhan Tim dan Komitmen

Setelah tim terbentuk harus segera dikukuhkan oleh direktur dalam bentuk SK sekaligus membuat lembar komitmen yang ditanda tangani semua personil tim termasuk direksi.

Dalam SK biasanya tercantum berapa lama tim ini bergerak, sebenarnya tugas dari tim ini adalah menyiapkan dokumen RPAM dan mengawal implementasinya, jadi waktunya akan sangat tergantung dari kompleksitas dari SPAM yang akan dibuatkan dokumennya. Sebaiknya tim ini ditugaskan untuk 6 bulan, namun dapat diperpanjang sampai tugas utamanya selesai.

Tim yang sudah terbentuk harus diberikan pembekalan mengenai RPAM, sehingga mereka faham dengan apa saja yang harus mereka lakukan

Penyusunan Jadwal Kegiatan

Yang pertama dilakukan tim adalah menyusun daftar kegiatan berikut timelinenya dan jika sudah selesai melalui diskusi panjang perlu komitmen semua pihak melaksanakan kegiatan sesuai jadwal.

Penyusunan Jadwal dapat berdasarkan tahapan modul, dijadwal harus menetapkan jadwal untuk menyusun modul 1 sampai dengan modul 9 dan dalam menentukan jadwal ini harus melibatkan anggota tim yang berpengalaman.

 

 

PDAM Jaya, Indonesia Jaya

Sebagai perusahaan publik dalam bidang air minum, PDAM harus selalu meningkatkan performanya agar dapat melayani dengan baik kepada pelanggannya.  Walaupun di tengah-tengah tantangan yang tidak kecil, yakni berupa Sumber air yang terbatas, kebutuhan masyarakat yang tinggi, kebocoran yang masih cukup tinggi, infrastruktur yang usang, keterbatasan investasi, inefisien dalam proses dan masih banyak lagi tantangan-tatangan lainnya, tidak harus menyurutkan semangat agar dapat melewati tantangan satu demi satu.

The Man Behind The Gun

Merupakan istilah yang harus kita fahami bahwa kapasitas sumber daya manusia menjadi sangat penting, dari mulai pucuk pimpinan sampai karyawan yang paling bawah, harus mempunyai kapasitas sesuai dengan tugas dan fungsinya.  Untuk itulah capacity building menjadi sangat penting untuk mengelola PDAM, semakin tinggi kapasitas SDM nya maka akan semakin baik di dalam mengelola PDAM.  Semakin baik mengelola PDAM, maka pelanggan akan semakin terpuaskan, dan semakin pelanggan terpuaskan, maka revenue akan meningkat.  Dengan semakin tingginya revenue PDAM, maka karyawan akan sejahtera begitu juga dengan pemerintah daerahnya akan mendapatkan PAD yang tinggi pula.

Kadang tidak semua karyawan PDAM sesuai dengan kapasitasnya dengan yang dibutuhkan, namun dengan memberikan banyak pelatihan dan tentu saja praktek di lapangan akan membuat SDM ini meningkat kapasistasnya, oleh karena itu harus diberikan kepada mereka pelatihan rutin yang dapat membuat mereka semakin baik.

Semakin profesional di dalam menjalankan proses bisnisnya, maka dipastikan akan semakin baik layanan yang dapat diberikan, semakin baik layanan, maka masyarakat semakin sejahtera, semakin masyarakat sejahtera, maka PDAM semakin Jaya, PDAM semakin Jaya, Indonesiapun akan Semakin Jaya

Apa Itu RPAM

RPAM merupakan usaha pencegahan, perlindungan, serta pengendalian pasokan air minum bagi masyarakat Indonesia. RPAM merupakan adopsi dari konsep Water Safety Plan milik World Health Organization yang mengamankan air minum melalui pendekatan manajemen risiko. Konsep ini dilakukan dengan sistem dinamik yang diawali dengan mengidentifikasi risiko dari hulu sampai ke tangan konsumen dan selanjutnya dapat ditentukan tindakan pengendaliannya.(pokja ampl)

Secara umum RPAM diharapkan dapat meningkatkan pelayanan air yang lebih baik di seluruh Indonesia dan dapat menjamin terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Awal awal RPAM ini disosialisasikan, RPAM ini terdiri dari 4 komponen yaitu :

  1. Komponen Sumber, yaitu program pengamanan air minum di wilayah sumber air yang dapat berupa mata air, sungai, danau, laut, air tanah dangkal, maupun air tanah dalam. RPAM-Sumber bertujuan untuk mengendalikan pencemaran dan meningkatkan kualitas sumber air baku bagi operator air minum maupun para konsumen/pengguna yang langsung menggunakan air dari sumber air baku seperti mata air, dan lain sebagainya;
  2. Komponen Operator, yaitu program pengamanan air minum yang dilakukan pada sistem pengolahan air minum yang meliputi unit intake, pengolahan, dan distribusi air minum. RPAM-Operator meliputi operator berbasis institusi seperti Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Dinas, maupun Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang mengelola air minum di daerah maupun operator berbasis masyarakat seperti Badan Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (BP-SPAM), Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM), dan badan pengelola di tingkat desa dan/atau masyarakat yang mengelola air minum. RPAM-Operator bertujuan untuk mengefisiensikan biaya pengolahan dan memperbaiki pelayanan penyelenggara air minum baik oleh pemerintah, PDAM, maupun masyarakat atau swasta; Komponen Konsumen, yaitu program pengamanan air minum pada tingkat pengguna atau konsumen dan lebih ditujukan kepada cara-cara penyimpanan air yang aman di tingkat rumah tangga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
  3. RPAM-Konsumen ditujukan untuk mencegah terjadinya rekontaminasi air minum setelah mencapai tangan konsumen/pengguna. Pada RPAM-Konsumen, masyarakat dipastikan untuk selalu mendapatkan air minum yang berkualitas dan memenuhi standar kesehatan.
  4. Komponen Komunal, RPAM dengan ruang lingkup penyediaan air minum yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya, melalui kelompok pengelola airminum di masyarakat (misalnya BPPSPAM)

RPAM dilaksanakan dengan tujuan menjaga atau fokus kepada 4K, yaknit Kualitas, Kuantitas, Kontinuitas dan Keterjangkauan air yang didistribusikan kepada masyarakat atau pelanggan. Acuan Standar Kriteria 4K mencakup:

  • Kualitas: tersedianya air minum yang mengacu kepada Permenkes No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum;
  • Kuantitas: tercukupinya air minum minimal 80 liter/hari per orang;
  • Kontinuitas: tersedianya layanan air minum tidak terputus selama 24 jam
  • Keterjangkauan: terjangkaunya layanan air minum dengan harga maksimal 4% dari pendapatan berdasarkan Upah Minimum Regional (UMR) masyarakat (Permendagri No. 71 Tahun 2016 tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum)
Scroll to Top